Sebuah Teladan tentang Integritas dan Disiplin

Pak Hadi Susilo (sebelah kiri) bersama Pak Kusno Subyakto (sebelah kanan) dalam penganugerahan PIIAK Tahun 2016
Bahasa Indonesia

Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Sosok ini terkenal sangat tegas dan disiplin dalam menegakkan Nilai-Nilai Kementerian Keuangan, gratifikasi, dan tindakan korupsi. Pertama kali bertemu Pak Hadi Susilo, saat masih menjabat sebagai Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Timika dengan penampilan sangat rapi, sepatu kerja hitam pekat, dan tidak lupa mengenakan dasi serta kacamata yang menandakan ketelitian beliau.

Tanggal 18 Januari 2018, saya resmi menjadi pegawai KPP Pratama Timika, pertama kali mengikuti kegiatan morning activity, kegiatan yang dilaksanakan seminggu dua kali yaitu pada Senin dan Rabu untuk berkumpul bersama-sama di aula lantai 5, KPP Pratama Timika. Agenda kegiatan yang berisi pembacaan doa, pembacaan Nilai-Nilai Kementerian Keuangan, motivasi atau inspirasi serta kewajiban melakukan sikap Nilai-Nilai Kementerian Keuangan secara bersama-sama. Kedisiplinan adalah hal yang paling utama dijunjung beliau, sehingga siapapun yang terlambat wajib meminta maaf sebagai sarana untuk dapat menghormati pegawai lain yang datang tepat waktu.

Sosok yang memberi motivasi bagi kami sebagai pegawai baru, dengan ucapan tegas beliau. “Kalian berada di Papua, kalian udah ga ganteng, jadi kalian jangan bermalas-malasan,” kata Pak Hadi Susilo. Hal yang membuat terkejut, namun menyiratkan bahwa kami harus bekerja dengan rajin.

Mencoba memahami beliau, berarti memahami sisi ketelitian beliau. Berapa kali, konsep surat harus beliau kembalikan. Dengan berapa coretan-coretan koreksi, beliau memang selalu mengedepankan akan Nilai–Nilai Kementerian Keuangan yatu kesempurnaan sehingga segala bentuk surat kedinasan harus mengacu kepada tata naskah dinas yang benar. Menurut beliau, hal itu sebagai sarana agar pegawai dapat lebih peduli serta dapat meningkatkan kemampuan dan menggunakan tata bahasa yang benar. Beliau tidak akan menyerah untuk memberikan koreksi, karena hal itu tanggung jawab sebagai pemimpin untuk menunjukkan hal yang benar.

Belajar dari beliau, belajar pula menjadi pemimpin yang melindungi dan bertanggung jawab. Saya rasa menjadi pemimpin itu berat, namun seberat apapun itu adalah sebuah amanah dan tanggung jawab. Beliau pernah berkata bahwa menjadi pemimpin berarti siap bertanggung jawab, jika bawahan itu bersalah maka yang salah adalah pemimpinnya. Itulah yang menurut saya hal yang luar biasa.

Belajar dari beliau, belajar pula mengenai rasa. Tulisan adalah cerminan jiwa. Tulisan adalah bukti kejujuran hati. Segala etika manusia akan tercermin lewat tulisan yang ia goreskan. Seperti untaian kata beliau yaitu "langkah kecil kami untuk menegakkan integritas dan membangkitkan semangat antikorupsi dari bumi papua", menyiratkan bahwa dalamnya hati yang tulus untuk menjaga integritas, walaupun mungkin peran yang kita miliki sangat kecil, namun karena kita ikhlas maka keikhlasan itu akan menimbulkan semangat positif yang akan menyebar dan memberi dampak yang luas untuk sekitar.

Belajar dari beliau, belajar pula untuk dapat mengoptimalkan kemampuan diri. Sebagai pemimpin, beliau siap memberikan dorongan moril dan rela menyiapkan waktu dan tenaga untuk dapat membantu memberikan solusi atas permasalahan pegawainya.

Belajar dari beliau, belajar pula untuk dapat bertanggung jawab sebagai individu ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Dzat yang paling tinggi, selain Tuhan Yang Maha Esa. Menurut beliau ketika kita disiplin dalam beribadah berarti kita akan disiplin pula dalam bekerja. Semua itu berhubungan, dan dengan beribadah dengan baik, segala urusan kita, akan dipermudah oelh Tuhan Yang Maha Esa.

Yang terakhir, belajar banyak hal dari beliau, bak sebuah mutiara, di mana pun mutiara itu berada, ia tetap mutiara. Manusia yang berharga, di mana pun ia berada, ia akan selalu berharga. Sebagai pemimpin yang tegas,  beliau bersikap untuk mengayomi pegawainya. Kami sadar bahwa, kami di Papua, khususnya Timika, mempunyai keterbatasan kemampuan dan pengetahuan. Jika dibandingkan dengan pegawai di Jawa khususnya, mungkin kami kurang bisa mengejar, namun jiwa integritas dan kedisiplinanlah yang bisa kami banggakan, hal yang ada di dalam diri, yang mungkin saja terabaikan.

Sekilas mengenai Pak Hadi Susilo yang selalu saya kenang dan selalu saya banggakan.(*)

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi di mana penulis bekerja.